Rabu, 22 September 2010

Nama Gerakan-Gerakan Karate

Berikut di bawah ini adalah nama-nama dari Gerakan Karate baik itu kuda2, pukulan, dan tendangan.



Semoga bermamfaat

Senin, 20 September 2010

Penelitian tentang Beladiri bagi Pelajar

 Penelitian Tentang Mamfaat Kegiatan Beladiri bagi Pengelolaan Emosi Pelajar

Tawuran antar pelajar sekolah sering kita temukan sehari-hari di jalan. Entah apa yang menjadi pemicunya yang jelas aktivitas ini sangat merugikan remaja itu sendiri disamping berdampak buruk bagi lingkungan, orang tua, bahkan tentunya korban tawuran itu sendiri.Mungkin penyebabnya hanya masalah sepele, tapi dasar anak abg energi mereka meluap-luap, jika tidak disalurkan pada tempatnya maka akan meledak dan dimuntahkan pada sarana dan tempat yang tidak tepat, yang ujung2nya merugikan mereka sendiri serta orang lain di sekitarnya. sehingga gagallah tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Masa2 muda adalah masa yang penuh dengan energi, oleh karena itu energi yang penuh tersebut harus disalurkan ke berbagai kegiatan yang positif, sebab bila tidak maka energi tersebut akan menjadi destruktif. Pada masa2 remaja emosi pelajar belum stabil alias masih labil atau masih gampang tersulut emosi dengan hanya hal yang sepele saja, yang ujung2nya dapat melakukan tindak kekerasan. Oleh karena itu dengan adanya kelas2 Beladiri yang ada di sekolah2 pada jam2 sehabis pelajaran sekolah atau pada hari libur sangat membantu untuk menyalurkan energi2 yang berlebihan tersebut. Kelas beladiri seperti belajar Karate akan membantu siswa sekolah dalam hal pengelolaan emosi mereka sehingga mereka tidak mudah untuk terjun dalam tindak2 kekerasan seperti halnya tawuran. Berikut ini adalah penelitian tentang mamfaat latihan beladiri khususnya Karate terhadap pengelolaan emosi pelajar.

Masa remaja sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa menyebabkan munculnya perubahan-perubahan dalam diri individu, salah satunya adalah perubahan emosional. Emosi yang sering kali menimbulkan masalah bagi remaja bila tidak dikendalikan dan diekspresikan secara tepat adalah emosi marah. Emosi marah dapat muncul melalui situasi-situasi di sekeliling remaja (anteseden), dimana pemaknaannya bila merujuk pada teori yang dikembangkan oleh Spielberger (2003), tergantung pada pengalaman remaja itu sendiri (trait dan state) dalam hal pengekspresian (expression) maupun pengendalian (control) rasa marah. Sejalan dengan itu, pada masa remaja, individu mulai terlibat aktif di berbagai aktivitas baik di dalam maupun di luar sekolah, salah satunya adalah kegiatan olahraga beladiri. Olahraga beladiri memiliki berbagai nilai positif dalam melatih pengelolaan emosi, ketahanan fisik dan sportifitas. Gerakan-gerakan yang dipelajari juga merepresentasikan gerakan yang ditemui jika remaja sedang merasa marah, seperti menyerang, memukul atau menjatuhkan lawan. Keuntungan lain khususnya dalam membina aspek spiritual juga membedakan olahraga beladiri dengan kegiatan lain seperti bidang musik, sains bahkan olahraga lainnya. Walaupun demikian, kegiatan non-beladiri ternyata juga memberikan kontribusi dalam menciptakan emosi yang lebih positif saat remaja menghadapi masalah, misalnya dengan suasana yang lebih santai, detil kegiatan yang unik dan menantang, serta kepopuleran yang mereka dapatkan bila terlibat di dalamnya.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perbedaan anteseden, pengalaman, ekspresi dan kontrol marah pada kelompok remaja yang mengikuti olahraga beladiri dengan kelompok remaja yang tidak mengikuti olahraga beladiri, peneliti menggunakan 2 (dua) kuesioner yakni kuesioner Anteseden Kemarahan yang dirancang Dewi (2004) dan STAXI-2 yang dikembangkan oleh Spielberger & Reheiser (2003). Karakteristik sampel penelitian ini adalah remaja laki-laki usia 16- 18 tahun di wilayah Jakarta serta terlibat secara rutin dalam olahraga beladiri. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pada trait marah khususnya sub skala Temperamen serta Anger Expression-out antara remaja laki laki yang mengikuti olahraga beladiri dengan remaja laki-laki yang tidak mengikuti olahraga beladiri. Di sisi lain, tidak terdapat perbedaan pada anteseden subjektif, objektif, interpersonal; State marah; Anger Expression-in, Anger Control-in dan Anger Control-Out antara remaja laki-laki yang mengikuti olahraga beladiri dengan remaja laki-laki yang tidak mengikuti olahraga beladiri. Dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa olahraga beladiri memiliki nilai lebih dibandingkan kegiatan-kegiatan lain yang diikuti remaja khususnya dalam membantu meredam rasa marah yang muncul tanpa stimulus tertentu (traittemperamen) dan mengekspresikan rasa marah ke luar diri (anger expression-out). Kesimpulan ini tidak menjadikan olahraga beladiri sebagai satu-satunya sarana bagi
remaja untuk mengelola emosi. Kegiatan-kegiatan non beladiri lainnya seperti bidang musik, sains, dan jenis olahraga lain juga sama pentingnya dalam membentuk aspek emosional remaja. Penelitian lebih lanjut yang dilengkapi dengan metode kualitatif diperlukan agar secara lebih spesifik mampu melihat bagaimana
remaja memaknai setiap kegiatan yang dilakukan di luar jam sekolah sebagai sarana
pengelolaan emosi, khususnya emosi marah. Dengan adanya hasil penelitian ini  semakin memperkaya dan mempertebal keyakinan kita akan nasehat  master2 Beladiri zaman dahulu bahwa latihan beladiri itu banyak mamfaat, nah bagaimana dengan anda?

Idealisme latihan Karate ala Kyokushin

[Karate] Kyokushin Uchideshu
“Uchideshu” dalam bahasa Jepun kalau ditinjau dari sudut nahwu dan balaghah nya bermakna “rumah”. Bila diterjemah bebas “Kyokushin Uchideshu” bisa bermakna “murid mondok” atau murid yang mondok dan berlatih di rumah (honbu/dojo pusat) kyokushin.

Program “kyokushin ucideshu” atau murid mondok ini dilaksanakan oleh Sosai Masutatsu Oyama di dojo pusat/honbu di Tokyo dalam rangka mewujudkan salah satu dari 11 Motto Masutatsu Oyama yaitu motto ke-6 yang berbunyi, “Jalan Seni Beladiri dimulai setelah 1,000 hari latihan dan dapat dikuasai setelah 10,000 hari latihan”. Sosai Masutatsu Oyama sendiri awalnya pernah menyepi dan berlatih dengan keras di pegunungan selama kurang lebih 16 bulan. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai isi 11 Motto dari Masutatsu Oyama bisa tengok Un Off Site Kyokushin Karate Indonesia pada menu 11 Motto.

Jadi menurut Sosai Masutatsu Oyama, bahwa setelah berlatih 1,000 hari dengan minimum latihan 6 jam per hari, barulah jalan seni beladiri di mulai. Maka bisa dibayang kualitas rata-rata latihan beladiri masyarakat pada umumnya tak terkecuali di Jepun yang hanya 2 kali dalam seminggu dengan lama latihan 2 jam. Jadi bisa dihitung dalam seminggu hanya menempuh latihan 4 jam, 1 bulan 16 jam, dan 1 tahun = 52 minggu maka akan ketemu 208 jam latihan. Itupun dengan catatan dalam 1 tahun tidak pernah absen. Jadi kalau dihitung berdasarkan program latihan dari Sosai Masutatsu Oyama 208 jam/6 jam maka akan ketemu sekira 35 hari latihan saja.

Dalam program kurikulum reguler kyokushin, dari kyu-9 (sabuk putih) sampai kyu-3 (hijau strip) rata-rata dalam setiap tingkatnya harus menempuhi 4 bulan atau 16 minggu dikalikan 4 jam/minggu atau setara dengan 64 jam latihan. Dan kalau dibanding dengan program uchideshu maka setara dengan 10 – 11 hari latihan saja.

Program uchideshu yang dicanang oleh Sosai Masutatsu Oyama di dojo pusat/honbu dalam setiap harinya murid melahap 6 jam latihan dengan dibagi menjadi 3 kali latihan dengan masing-masing latihan 2 jam, yaitu pukul 10.00 – 12.00, pukul 15.00 – 17.00, dan pukul 19.00 – 21.00. Dalam 2 jam latihan, biasanya terdiri dari latihan dasar (kihon) yang wajib dilakukan dan selanjutnya bisa bervariasi antara latihan Kata (Jurus), Fisik, atau Kumite (Pertarungan).

Di awal-awal program ini dicanangkan oleh Sosai Masutatsu Oyama sekitar akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an banyak berdatangan murid-murid dari seluruh dunia untuk belajar langsung pada Oyama di dojo honbu. Dan banyak diantara mereka yang tidak kuat dan hanya bertahan dalam hitungan bulan.

Dari program ini Sosai Masutatsu Oyama banyak menghasilkan atlet-atlet yang handal yang banyak menjuarai berbagai turnament International. Kancho Akiyoshi Matsui Chairman IKO Kyokushin sekarang pengganti Masutatsu Oyama pernah menjalani program ini dan selain pernah menjuarai Turnament di Jepun juga menjadi Juara 3 pada World Open Tournament tahun 1984, dan Juara 1 pada World Open Tournament tahun 1987.

Fransisco Filho dari Brazil tercatat juga pernah menjalani program ini. Filho mulai berdomisili di Jepun sekira tahun 1990-an dan aktif melatih dan berlatih di dojo honbu. Prestasi yang pernah diraihnya antara lain Juara 3 pada World Open Tournament tahun 1995, dan Juara 1 pada World Open Tournament tahun 1999, serta Juara 1 K-1 Grandprix Tahun 1997 yang di partai Final mengalahkan Andy "samurai with the blue eye" Hugg.

Orang Indonesia yang pernah mengikuti program Uchidesh adalah Shihan Nardi T. Nirwanto, pendiri Kyokushin Indonesia yang berlatih langsung di bawah Sosai Masutatsu Oyama di dojo honbu selama 6 bulan. Jadi kalau dihitung taruhlah kalau dalam satu minggu libur 1 hari, maka dalam satu bulan menempuhi 26 hari latihan, dan selama 6 bulan Shihan Nardi sudah menempuhi 26 x 6 = 156 hari latihan. Dan pada saat mengikut program ini Shihan Nardi sudah ada menyandang tingkatan Dan III (mohon diralat kalau saya salah).

Pengalaman Shihan Nardi dalam mengikut program ini boleh ditengok di website rasminya PMK Kyokushinkai Karate-Do Indonesia. Dan salah satu murid Shihan Nardi yaitu Shihan JB. Sujoto yang kemudian mendirikan organisasi sendiri yaitu Kyokushin Karate Indonesia tercatat beberapa kali mengikut special training dan berlatih langsung ke Jepun di bawah asuhan Sosai Masutatsu Oyama, akan tetapi tidak menempuhi waktu yang lama, hanya dalam hitungan minggu saja.

Dari paparan di atas kiranya bolehlah kita perbandingkan dengan kondisi kita di sini, sudah sejauh mana sebenarnya posisi kita dalam seni beladiri. Kondisi dalam Uchideshu mungkin bisa disetarakan dengan atlet yang sedang menjalani pelatnas dimana dalam seharinya bisa melahap 5 – 6 jam latihan.

Dan kondisi ini penulis yakin sangatlah sulit dilakukan oleh kebanyakan dari kita yang majority pekerja atau pelajar/mahasiswa. Jadi memang untuk menjadi profesional dituntut ketekukan dan pengorbanan waktu, tenaga dan biaya bahkan sekolah atau cita-cita masa depan. Dan kondisi ini pula yang membuat prestasi olah raga kita pada umumnya tidak beranjak maju, kerana para atlet selain harus latihan keras juga harus berkutat dengan masalah ekonomi dan masa depan yang kurang mendapat perhatian dari yang berkepentingan.

diambil dari situs mixedfighting.blogspot.com dengan judul artikel "(karate) Kyokushin Uchideshu

Perbedaan JKF GOJUKAI & GOJUKAI IKGA.

Banyak karateka di Indonesia tidak mengenal kedua nama organisasi tersebut. Dari nama memang memiliki kemiripan yang nyaris tidak memiliki perbedaaan. Tetapi sebenarnya secara RULES sangat berbeda. Baik dari lambang pun serupa tapi tidak sama. Nama Gojukai di ciptakan oleh Sensei Gougen Yamaguchi sebagai penghargaan kepada sang maha guru yaitu Chojun Miyagi Sensei. Dengan julukan DEWA KEPALAN mengilhami Gougen Yamaguchi sensei menciptakan lambang itu.

Kita sedikit merilis Gougen Yamaguchi sensei, mulai berlatih Goju Ryu. Sebelum beliau berlatih Goju Ryu di Retsumikan University Kyoto Jepang ,beliau adalah juga ahli dalam seni beladiri Pedang ( Japanese Fencing ) Kenjutsu-kendo. Beliau mengenal Goju Ryu dari seorang bernama MARUTA sensei seorang Okinawa sebelum akhirnya Goegen Yamaguchi berlatih di bawah arahan langsung Chojun Miyagi Sensei.

Karena ketekunannya akhirnya beliau mengembangkan Tekhnik Goju Ryu di Jepang dan memberikan nama bagi clubnya yaitu GOJUKAI. Club Gojukai berkembang pesat dengan berbagai nama club baru sebagai kecabangan dari GOJUKAI itu sendiri. Akhirnya beliau juga mendirikan lembaga bernama ALL JAPAN GOJUKAI ASSOCIATION dimana Gougen Yamaguchi sensei sebagai President dan Masutatsu Oyama ( Coi Hong Hee ) sebagai wakilnya. Masutatsu adalah orang korea yang diwarganegara jepangkan. Kelak Masutatsu meninggalkan Gojukai dan mendirikan KYOKUSHIN.

Gougen Yamaguchi sensei meninggal dunia pada tahun 1989 dalam usia 81 tahun. Sepeninggal nya Gougen Yamaguchi sensei, terjadi perpecahan di dalam tubuh GOJUKAI. SHOJO UJITA keluar dari Gojukai dan mendirikan JKF-GOJUKAI. TSUJI TAZAKI mendirikan SEIWAKAI dan Gojukai sendiri menjadi organisasi yang berdiri sendiri dengan identitas baru yaitu GOJUKAI-IKGA. Saat Ini Gojukai-IKGA di urus oleh anak-anak Gougen Yamaguchi sensei yaitu Gosei Yamaguchi dan Gosen Yamaguchi.

SHOJO UJITA sensei ( JKF-GOJUKAI ) & TSUJI TAZAKI sensei (SEIWAKI) kembali ke Okinawa dimana lahirnya Goju Ryu. Disinilah JKF-GOJUKAI & SEIWAKAI sepakat untuk mempertahankan originalitas KATA GOJU RYU. Selain itu Shojo Ujita & Tsuji Tazaki ikut pula menjadi Board Commision dalam JKF ( JAPAN KARATE FEDERATION). Selain itu JKF GOJUKAI pun menjadi Board Advisor dalam penentuan kebijakan KATA GOJU RYU di tubuh WKF ( World Karate Federation ).

Sedang GOJUKAI-IKGA memiliki event sendiri di luar WKF. Salah satu Kebijakan JKF GOJUKAI adalah dengan di angkatnya AKIRA SHIOMI sensei menjadi kepala team pelatih KATA JKF-GOJUKAI maupun JKF dimana AKira Shiomi sensei melahirkan atlit KATA juara Dunia WKF yaitu ABE dan Atsuko WAKAI.

Hal-hal yang di pertahan kan oleh JKF-GOJUKAI dan SEIWAKAI serta keturunannya yang kembali ke OKINAWA adalah mempertahankan 12 original GOJU RYU KATA mulai dari : Sanchin,Gekisai ( 1 & 2 ),Saifa,Shisochin,Seiyunchin,Sepai,Sanseru,Kururunfa,Seisan, Separunpei/Pethurin dan Tensho,dimana KATA yang di pelajari tersebut harus memahami BUNKAI nya.

Sedang pada GOJUKAI-IKGA di sisipkan Tae Kyoku ,koryu,Genkaku dan Chikaku pada Tokuteinya.

INDONESIA

Sehingga Organisasi Goju Ryu yang merujuk kepada Gojukai harus diluruskan kiblatnya apakah kepada JKF-GOJUKAI atau GOJUKAI-IKGA. Mengapa demikian ? hal ini demi tegaknya sejarah yang benar dan bukan untuk membuat perbedaan yang mengakibatkan perpecahan. Anak-anak didik kita lah taruhan masa depan kelangsungan organisasi kita yang sangat kita banggakan. Mudah-mudahan info ini sangat berguna bagi seluruh karateka Goju Ryu di Indonesia.

Minggu, 19 September 2010

Efek Psikologis Latihan Karate

Anda merasa jenuh, malas, enggan berlatih Karate lagi? Atau tidak punya waktu untuk berlatih lagi? Atau jangan2 pikiran anda sudah dihinggapi persepsi yang salah tentang latihan karate, sampai-sampai anda berpikir, “buat apa latihan karate cape-cape dan membosankan percuma tidak ada hasilnya yang ada tubuh saya sakit semua , mendingan saya mengurusi hal lain.”Kalau itu pendapat anda, barangkali alasan2 dibawah ini bisa mengubah pandangan/persepsi anda tentang pentingnya berlatih Karate, sehingga anda termotivasi kembali untuk giat lagi dalam latihan secara rutin dan konsisten. Dan bagi yang merasa tidak punya waktu akan kembali sadar akan pentingnya berlatih karate sehingga ia akan lebih bijaksana dalam menggunakan waktunya untuk latihan alias mempunyai time management yang baik.

Jika kita menempa diri kita dengan latihan Karate yang keras, melelahkan, tidak menyenangkan dan membosankan bahkan dengan membiasakan diri menahan kebutuhan manusiawi seperti rasa lapar, dahaga, amarah, takut sakit dsb untuk tetap latihan, secara terus menerus dengan perasaan penuh keyakinan, maka lama kelamaan tanpa terasa sikap mental kita akan terbentuk dengan sendirinya yaitu:
1. Tangguh, tabah, tegar dan tahan uji dalam menghadapi segala cobaan hidup
yang keras, tidak peduli sekeras apapun cobaan hidup yang menimpanya,
seorang karateka yang sudah terbiasa berlatih karate secara rutin yang
meletihkan dan membosankan akan tertempa mentalnya dalam menghadapi
cobaan hidup.
2. Percaya diri, rajin, dan rendah hati serta Mengurangi sifat-sifat buruk
seperti rasa malas, rendah diri dan sombong.
3. Lincah, cerdik, berani,bergairah, dan bersemangat. Dalam latihan Karate
tentunya melibatkan semua gerakan koordinasi otot-otot tubuh termasuk
pengerasan, kelenturan, dan pelepasan tenaga yang disertai dengan teriakan
Kiai. Dengan adanya gerakan-gerakan tersebut mempengaruhi jiwa para
Karateka sehingga membuat mereka bersemangat, bergairah, berani, dan
lincah. Sedangkan latihan bertarung membuat para Karateka menjadi cerdik
karena terbiasa berpikir bagaimana mengalahkan lawan mereka.
4. Jiwa sportif, dan bermental ksatria, dalam karate sering terdapat latihan
bertarung (Komite), dalam bertarung para karateka dipaksa untuk selalu
ersikap sportif dalam menerima setiap hasil dari pertandingan komite,
entah itu kalah atau menang.
5. Jujur. Baik jujur pada diri sendiri dan orang lain.
6. Sopan santun dan memiliki etika dalam kehidupan sehari-hari.
7. Tenang dan sanggup mengendalikan emosi/ tidak cepat marah, maksudnya
setiap terjadi permasalahan selalu memakai dengan cara musyawarah
dari pada kepalan tangan. Dalam salah satu filosofi Karate berbunyi” kenali
dirimu sendiri sebelum lawanmu, dalam seratus pertempuran kau tidak akan
dalam bahaya.” Yang berarti kita harus bisa mengendalikan pikiran/control
emosi kita dulu sebelum bertindak menyerang lawan. Karena bisa jadi
masalah dengan lawan kita tidak sesulit apa yang kita bayangkan, atau dengan
kata lain masih ada peluang alternative untuk menyelesaian masalah dengan
lawan tanpa melakukan kekerasan. Sebab dalam Karate melakukan kekerasan
adalah jalan terakhir bila segala sesuatunya sudah buntu. Jika kita berhasil
mengalahkan lawan tanpa kekerasan dan lawan mengakui kemenangan kita dengan
hormat dan segan, itu baru kemenangan tertinggi
dalam Karate. Sikap tenang dalam karate juga mengandung artian bahwa kita
juga harus tenang dalam menghadapi suatu pertarungan dengan lawan, ingat
prinsip Mizu no Kokoro (pikiran layaknya air) dan Tsuki no Kokoro(pikiran
layaknya bulan). Tanpa adanya sikap tenang gerakan serangan dan pertahanan
kita dalam beladiri menjadi amburadul dan tidak tepat sasaran dan yang
lebih buruk kita tidak dapat mengantisipasi serangan lawan atau membaca
serangan lawan sehingga kekalahanpun akan terjadi di depan mata.
8. Memperoleh pikiran, jiwa yang tenang dan damai. Dengan berlatih Karate
memungkinkan pikiran dan jiwa memperoleh ketenangan, seumpama dalam
berlatih kata, dalam latihan ini karateka dituntut mengeluarkan seluruh
kemampuannya semaksimal mungkin dari setiap gerakannya baik kecepatan,
kekuatan, kelenturan, koordinasi bagian tubuh, pemusatan energi (Kime)
serta pernafasan menjadi satu tujuan yaitu untuk mengalahkan musuh (dalam
majinasi). Sebab dalam latihan kata karateka dituntut untuk memahami
setiap gerakan dan aplikasinya (bunkai) dengan cara seolah-olah menhadapi
musuh yang sebenarnya. Seluruh pusat perhatianpun tertuju pada musuh
imajener ini, karena kalau kita lengah sedikit saja maka seakan-akan nyawa
kita akan melayang. Dalam latihan Kata pun, seseorang bisa melampiaskan
perasaan kekesalannya berupa rasa stress, kecewa, sakit hati dan lain2
kepada lawan imajenernya sehingga ia tampak lebih bersemangat dalam
mengkonsentrasikan tubuhnya dalam berlatih kata. Pelampiasan inipun berbuah
pada kualitas latihan menjadi lebih baik, sehingga akan memunculkan rasa
tenang dalam jiwa.
Itulah mamfaat jangka panjang yang akan kita dapati, bila kita secara terus menerus berlatih Karate, sebab pada intinya Karate mengajarkan sikap dan mental yang baik sesuai dengan prinsip dasar dan falsafah beladiri yang utama (bushido). Nah, bagaimana apakah sekarang anda sudah kembali termotivasi lagi untuk latihan?

Pisang Nutrisi Tepat untuk karateka

Buah Pisang yang kita kenal sehari-hari sebagai hidangan penutup, ternyata mempunyai mamfaat dan khasiat yang besar pada kita, khususnya bagi para karateka atlit atau non atlit. Dalam buah pisang misalnya pisang raja terdapat kandungan-kandungan kimia yang besar pemanfaatannya sebagai doping alami yang aman bagi tubuh. Kandungan-kandungan kimia tersebut yaitu gula (glukosa, fruktosa, dan sukrosa), trypthopan, piridoksin, ferrum, potassium, serotonin, dan riboflavin. Kandungan gula yang terdapat dalam buah pisang raja menyimpan banyak sumber kalori tubuh yang berguna untuk memulihkan tenaga para atlet. Kandungan trypthopan dalam pisang raja memiliki kemampuan untuk menormalkan fungsi sistem syaraf dan pembuangan. Piridoksin yang terdapat pada pisang raja memiliki kemampuan untuk mengontrol tingkat glukosa darah.Kandungan ferrum yang terdapat pada pisang raja berfungsi untuk merangsang produktivitas hemoglobin (Hb). Potasium pada pisang raja memiliki peranan penting dalam pemanfaatannya sebagai doping alami para atlet karena kandungan potasium ini memiliki kemampuan untuk mengatur tekanan darah, mengurangi risiko darah tinggi, mempertajam kefokusan mata, menormalkan detak jantung, mengirim oksigen ke otak, dan mengendalikan kadar cairan tubuh para atlet. Serotonin yang terdapat pada pisang raja berfungsi dalam mengatur beban ketegangan yang dialami para atlet saat menjalani pertandingan karena kandungan kimia ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan tekanan perasaan agar menjadi lebih rileks dan terkendali, sedangkan kandungan riboflavin pisang raja berfungsi dalam mempertahankan aktivitas kerja sistem syaraf dan meningkatkan konsentrasi para atlet. Pemanfaatan buah pisang raja sebagai doping alami para atlet dilakukan dengan mengubahnya dalam bentuk juice. Hal ini dilakukan agar penyerapan nutrisi yang terdapat dalam buah pisang raja tersebut dapat diserap secara cepat dan efektif oleh tubuh.
Berdasarkan mekanisme kandungan-kandungan kimia yang terdapat pada buah pisang raja seperti yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa buah pisang raja dapat dimanfaatkan sebagai doping alami yang aman bagi tubuh serta tidak memiliki efek buruk bagi kesehatan para atlet selama dikonsumsi secara wajar.
Penggunaan pisang raja sebagai doping alami para atlet dilakukan dengan cara mengubahnya dulu dalam bentuk juice. Menurut John Heinerman dalam bukunya yang berjudul Ensiklopedi Juice, hal ini dilakukan agar penyerapan nutrisi yang terdapat dalam buah pisang raja tersebut dapat diserap secara cepat oleh tubuh. Dengan penyerapan yang cepat tersebut, maka proses penyerapan energi dan mineral-mineral penting bagi tubuh yang besar pemanfaatannya sebagai doping alami para atlet akan dapat dimanfaatkan secara efektif oleh tubuh.
Cara pembuatan juice pisang raja adalah sebagai berikut.
1. Sediakan alat (blender, pisau, gelas takar) dan bahan (1 buah pisang raja yang sudah masak,
    200 ml air putih).
2. Tuangkan 200 ml air putih ke dalam blender.
3. Kupas kulit pisang raja dan potong dalam beberapa bagian.
4. Masukkan potongan pisang raja dalam blender dan mulai pemblenderan.
5. Tunggu sampai 1 menit dan setelah selesai juice pisang raja dapat disajikan sebagai
    minuman doping alami yang aman bagi tubuh.
 Demikianlah khasiat dari buah pisang, penulis sendiri sudah pernah mengalami efek dari buah tersebut, waktu itu seharian saya makan pisang Raja saja tanpa makan nasi dan lauk pauk. Saya memakan buah pisang yang agak keras, kenyal dan tidak terlalu mentah, matang, serta manis. Buah tersebut lumayan besar untuk ukuran buah2 pisang pada umumnya. Setelah penulis menghabiskan beberapa pisang sampai kenyang ternyata penulis merasakan efek kenyang beberapa jam tanpa mau lagi mengkonsumsi nasi, kemudian disaat yang sama penulis merasakan lebih bertenaga dan lincah, badan lebih nyaman dan tenang, perut adem dan fikiran lebih fokus. Itulah khasiat yang penulis rasakan, ayo siapa yang mau merasakan lagi khasiat buah pisang?

Sabtu, 11 September 2010

Berlatih Karate di Gunung

Pagi itu aku memulai aktifitasku di hari libur dengan pergi ke daerah perbukitan yang hijau dan berudara sejuk dibawah kaki gunung untuk berolah raga (berlatih karate). Kegiatan yang dimulai dari Jogging tersebut menempuh jarak 10 km dari kaki bukit sampai puncak bukit. Dengan dikelilingi oleh hamparan area perkebunan teh yang menghijau dan tertata rapi menambah indahnya suasana diperjalanan membuat api semangatku dan gairahku semakin berkobar untuk terus berlari tanpa berhenti sampai ke puncak bukit dekat kaki gunung. Lelah dan capek secara tidak sadar tidak kurasakan lagi sepanjang perjalanan karena aku telah terlena oleh indahnya pemandangan alam disekitarku dan udara sejuk yang selalu memasuki kerongkonganku yang membuatku semakin kuat untuk terus berlari. Aktivitas yang menuntut fisik yang prima tersebut tidak menyurutkan semangatku dalam berlatih. Banyak rintangan2 yang menghadang sepanjang perjalanan berupa medan yang terjal, menanjak, tanah yang becek dan licin, batu2 yang tajam, dan bentuk tanah yang tidak beraturan/Zig-zag. Tapi itu semua kugunakan untuk menempa mental dan ragaku agar lebih kuat. Dalam ilmu beladiri rintangan2 tersebut banyak mamfaatnya yaitu jalan yang terjal dan menanjak berguna untuk menguatkan kuda2 sehingga otot paha dan dengkul menjadi lebih kuat, tanah yang becek dan licin berguna untuk melatih keseimbangan tubuh, batu2 yang tajam berguna untuk memijat telapak kaki secara alami agar menyehatkan fungsi syaraf, dan bentuk tanah yang tidak beraturan atau Zig-zag berguna untuk melatih kelincahan, kecepatan dan kekuatan otot kaki dan tubuh. Sesampainya di puncak bukit aku semakin kagum dan terpesona oleh pemandangan disekitarku, hamparan perkebunan teh, pohon2 cemara, sawah, perkampungan semuanya terlihat dari puncak bukit. Didepan dan belakangku terdapat gugusan pegunungan yang berbaris dengan diselimuti rerimbunan pohon yang hijau. Di situ ada sebuah saung /gubug yang cukup luas dan tidak ada dindingnya. Di dikatakan cukup luas karena memungkinkan aku untuk berlatih Kata. Di dalam saung itu aku mulai melemaskan dan meregangkan otot2ku setelah itu aku memulai latihan di situ dengan push up, kemudian melakukan beberapa gerakan Kihon seperti chudan tsuki, soto uke, uchi uke, gedan barai, age uke, morote uke dan yokogeri sambil melakukan kuda-kuda Kibadachi. Setelah itu aku mulai melatih beberapa gerakan kata seperti Tekki shodan dan Kan kudai.
aku merasakan kenikmatan yang luar biasa saat berlatih di alam bebas, rasanya lebih enjoy, lebih rilex, lebih bersemangat dan lebih fokus. Cobain deh teman-teman berlatih di gunung, latihan kita lebih optimal dari pada latihan di tempat biasa. Selain itu latihan di gunung juga bermamfaat membuat fisik kita lebih tangguh daripada ditempat biasa.Gak percaya? lihat saja perbedaan fisik orang pegunungan dengan orang perkotaan. Orang pegunungan jauh lebih kuat dalam bekerja, berjalan dan berlari daripada orang yang tinggal di dataran rendah semisal diperkotaan. Karena mereka telah terbiasa mendaki gunung dan menuruni lembah dengan santainya dalam kehidupan sehari-hari.Mengapa bisa demikian? kita ambil contoh perbandingan dengan orang  yang sehari-harinya tinggal di pantai. Daerah yang berpantai memiliki udara yang kaya akan oksigen, sehingga pada orang yang tinggal dipantai tidak memerlukan jumlah HB yang banyak untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen. Seperti kita ketahui bahwa alat pengangkut oksigen dalam tubuh adalah Hemoglobin (HB) yang terdapat dalam butir darah merah. Nah, apabila orang pantai terutama yang tidak pernah berolah raga ditempatkan di pegunungan dengan ketinggian 2000-3000m diatas permukaan laut, maka ia akan terkena oleh apa yang disebut"penyakit gunung".Gejala penyakit ini adalah bahwa orang itu akan merasa lemah, lekas lelah,mengantuk dan nafas serasa tidak penuh. Setelah sekitar 10-14 hari berada di ketinggian tersebut, maka gejala penyakit tersebut biasanya akan berkurang atau hilang sama sekali. Penyakit gunung disebabkan oleh pasokan oksigen bagi keperluan tubuh tidak memenuhi kebutuhan, karena miskinnya oksigen di daerah pegunungan. Sementara itu kondisi fisik yang dimilikinya saat itu adalah kondisi alam pantai yang udaranya lebih kaya akan oksigen. Sebaliknya orang gunung memerlukan jumlah HB yang lebih banyak dan penyesuaian lainnya karena udaranya miskin akan oksigen. Itulah yang telah terjadi pada orang pantai yang telah dapat menyesuaikan diri dengan ketinggian tersebut. Sehingga Hb dan faktor penyesuaian lain akan meningkat. itulah alasannya mengapa aku memilih latihan di gunung. Setelah aku selesai latihan selama kurang lebih 3 jam lalu turun gunung. Aku merasakan perubahan yang drastis sesudah latihan, ini beda dengan latihan di tempat biasa. Tubuh serasa lebih segar, nyaman, kuat dan lincah. Nah, bagaimana komentar teman2 berani mencoba latihan di gunung?